IBADAH QURBAN DAN PENGELOLAANNYA
Oleh : Ahmad Asyhar Shafwan
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
1. Pengertian Qurban Dan Hukumnya
وهي ما يذبح من النعم تقربا إلى الله تعالى من يوم عيد النحر إلى آخر أيام التشريق (فتح الوهاب ج: 2 ص: 327 )
Qurban (Tadhhiyah) adalah ternak yang disembelih karena mendekatkan diri kepada Allah pada hari raya nahr sampai akhir hari tasyriq. Hukumnya sunnah kifayah dalam satu keluarga berdasarkan :
فصل لربك وانحر (الكوثر : 2 )
Maka shalatlah (hari raya) dan sembelihlah (qurban)
عن أنس رضي الله تعالى عنه قال ضحى النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده الكريمة وسمى وكبر ووضع رجله المباركة على صفاحهما (رواه مسلم )
Dari Anas ra ia berkata bahwa Nabi saw berkurban dengan dua kambing kibasy berwarna putih lagi panjang tanduknya, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri yang mulia seraya membaca basmalah, bertakbir dan meletakkan kaki beliau yang berkah diatas leher keduanya. HR. Muslim
قال صلى الله عليه وسلم ما عمل ابن آدم يوم النحر من عمل أحب إلى الله تعالى من إراقة الدم وإنها لتأتي يوم القيامة بقرونها وأظلافها وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع على الأرض فطيبوا بها نفسا (إعانة الطالبين ج: 2 ص: 330 )
Rasulullah saw bersabda : Tidaklah beramal seorang anak Adam pada hari raya nahr dengan amal yang lebih dicintai Allah Ta’ala daripada mengalirkan darah (hewan kurban), dan sesungguhnya hewan kurban akan datang dihari kiamat lengkap dengan tanduk dan kakinya, dan sesungguhnya darah (kurban) akan sampai disuatu tempat disisi Allah sebelum darah itu sampai diatas tanah, maka sucikanlah hatimu dengan korban.
KAJIAN ZAKAT
ZAKAT FITHRAH, AMIL DAN PANITIA ZAKAT *)
Oleh. KH. Ahmad. Asyhar Shafwan**)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
- Pendahuluan
Harta adalah milik Allah dan manusia hanyalah sebagai khalifahNya dalam mengurus dan mengelola harta. Ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang itu, diantaranya
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا (المائدة : 17)
Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan di langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya. (QS Al-Maidah 5 : 17).
وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ [الحديد:7]
Nafkahkanlah (keluarkan) sebagian dari sesuatu (harta) di mana Allah telah menjadikan kamu sebagai khalifah (penguasa atas harta itu). (QS Al-Hadid 57 : 7).
لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ [النساء :29]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kamu dengan cara yang bathil (QS Al-Nisa’ 4 : 29).
Haul KH. Ridwan Abdullah
Haul KH. Ridwan Abdullah
Surabaya, acara haul KH. Ridwan Abdullah salah pendiri NU, dan terkenal sebagai yang menciptakan lambang NU, Kyai Ridwan berasal dari Bubutan Surabaya dilaksanakan dengan sederhana dan khusyu’ di Musholah kampung Bubutan dekat kantor PCNU Surabaya, haul yang pada malam 10 Ramadhan di hadiri kyai-kyai, pengurus PCNU, tokoh partai dan masyarakat Bubutan, Kawatan, Tembok dan sekitarnya.
acara haul di awali dengan bacaan yasin oleh Rais Syuriah PCNU KH. Ahmad Dzul Hilmi Ghozali, dilanjutkan dengan tahlil yang dibawakan oleh Ustad Sajad (menantu Almarhum KH. Ali Muhammad imam Masjid Kemayoran). tampak hadir KH. MAs Sulaiman, KH.Muchid Murtadloh, KH.Mu’thi Nurhadi banyak lainnya.
sambutan keluarga diwakili oleh KH. Saiful Chalim (cucu KH. Ridwan Abdullah), lalu dilanjutkan dengan kesaksian dari tokoh yaitu H. Chasanan Noer.
H. Chasanan Noer bercerita tentang keikhalasan Kyai Ridwan dan sabar, serta tidak mau tampil, namun banyak ide-ide besar yang dimunculkan seperti menguburkan para pahlawan saat revolusi di makam pahlawan di Jalan Kusuma Bangsa dekat THR.
Gagasan besar Kyai Ridwan yang monumental namun tidak tercatat dalam sejarah adalah proses berdirinya Institut Teknologi Sepuluh November (ITS Surabaya). saat itu Kyai Ridwan meminta menantunya Yahya untuk mengumpulkan tokoh-tokoh untuk membuat karya yang monumental.
Bid’ah
BID’AH
Oleh,
H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar
مَا رَآَهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَ مَا رَآَهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ
“Apa yang dianggap baik oleh kaum muslimin, maka itu menurut Allah baik, dan apa yang dianggap jelek oleh kaum muslimin, maka itu menurut Allah jelek”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (no.3418), al-Hakim (no 4439), at- Thabarâni, al-Baihaqi dan lain-lain. Hadits ini tidak marfu’ sampai Nabi tetapi mauquf sampai shahabat Abdullah bin Mas’ud dengan sanad shahih menurut al-Hakim.
Hadits ini dalam kitab-kitab ushul fiqh dijadikan salah satu dalil ijma’ (konsensus ulama mujtahidin) dan dalam kitab-kitab kaidah fiqh dijadikan dalil dalam kaidah al-‘Adah Muhakkamah. Hadits ini marfu’ sampai Rasulullah sehingga dapat dijadikan hujjah (dalil) untuk mentakhsish keumuman hadits tentang semua bid’ah adalah sesat.
Read the rest of this entry »
Rukyatul Hilal
1. Rukyah Hilal
Pertanyaan :
Bagaimana Rasulullah SAW menetapkan awal Ramadhan dan Idul Fithri ? Kapan ilmu Hisab digunakan dalam penentuan awal bulan qamariyyah ?
Jawaban :
Rasulullah SAW menetapkan awal Ramadhan dan Idul Fithri dengan berdasarkan rukyatul hilal (melihat hilal). Dalam hal ini beliau SAW dengan sangat jelas dan gamblang bersabda :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ (رواه البخارى ومسلم)
Nabi SAW bersabda : ” Berpuasalah kalian karena telah melihat hilal dan berbukalah (berhari rayalah) kalian karena telah melihat hilal. Apabila hilal tertutup debu atas kalian, maka sempurnakan bulan Sya’ban tigapuluh hari “. HR : Bukhari – Muslim)
KHUTBAH RASULULLAH SAW MENJELANG RAMADHAN
خطبة رسول الله صلى الله عليه وسلم قبيل رمضان
PIDATO RASULULLAH SAW MENJELANG RAMADHAN
عَنْ سَعِيْدٍ ابنِِ اْلمُُسَيّبِ َعَنْ سَلْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ شَهْرٌ جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعاً، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، وَشَهْرٌ يُزَادُ فِي رِزْقِ الْمُؤْمِنِ فِيهِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلّم: «يُعْطِي اللَّهُ هذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِماً عَلَى تَمْرَةٍ، أَوْ عَلَى شَرْبَةِ مَاءٍ، أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ فِيهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ، وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ؛ خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا. فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ: فَشَهَادَةُ أَنَّ لاَ إلهَ إلاَّ اللَّهُ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ؛ وَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا. فَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ سَقَى صَائِماً سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ». (صحيح ابن خزيمة جز 3 ص 191 )
Dari Sa’id bin Musayyab dari Salman Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw berpidato dihadapan kita pada hari terakhir bulan Sya’ban. Beliau Saw bersabda : “Wahai umat manusia ! Benar-benar memberi keteduhan pada kalian bulan agung yang penuh berkah, yaitu bulan yang didalamnya mengandung suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, bulan yang Allah menjadikan puasanya sebagai ibadah wajib dan ibadah pada malam harinya sebagai ibadah sunat. Barang siapa dalam bulan itu berbuat kebajikan (sunat) satu kali, niscaya bagaikan orang yang berbuat ibadah wajib satu kali pada bulan yang lain. Dan barang siapa berbuat ibadah fardhu sekali dalam bulan itu, niscaya bagaikan orang yang berbuat ibadah wajib tujuh puluh kali dalam bulan yang lain. Bulan itu bulan kesabaran dan bersabar pahalanya adalah surga, bulan kepedulian dan bulan penambahan rizki bagi orang mukmin. Barang siapa dalam bulan itu memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan terampuni dosa-dosanya, terbebas dari ancaman api neraka dan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang berpuasa dengan tanpa terkurangi sedikitpun pahalanya”. Para sahabat bekata : Wahai Rasulallah, tidak semua kita bisa mendapatkan sesuatu untuk berbuka orang yang berpuasa. Lalu Rasulullah Saw bersabda : “Allah memberikan pahala ini kepada orang yang memberi makanan berbuka berupa sebutir tamar (kurma kering) atau seteguk air atau seincip air susu. Bulan itu adalah bulan yang permulaannya merupakan rahmat (kasih sayang), pertengahannya merupakan ampunan dan penghujungnya merupakan keterbebasan dari api neraka. Barang siapa membebaskan budaknya dalam bulan itu, niscaya Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah dalam bulan itu empat hal, yang dua hal dapat menyebabkan memperoleh ridha Tuhan, dan dua hal lainya kalian tidak dapat menghindarinya. Adapun dua hal yang menyebabkan kalian memperoleh ridha Tuhan yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan senantiasa memohon ampun kepadaNya. Dan adapun dua hal yang kalian tidak bisa terhindar dari padanya yaitu memohon kepada Allah mendapatkan surga dan memohon perlindungan dari nerakan. Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (ketika berbuka), niscaya Allah memberinya minuman dari telagaku satu kali yang tak akan haus hingga ia masuk surga. (Shaheh Ibnu Khuzaimah, 3/191)
Hukum Rukyah
Pertanyaan :
Apa hukum melaksanakan rukyatul hilal bagi kaum muslimin ?
Jawaban :
Mengingat pentingnya rukyatul hilal terkait dengan memulai dan mengakhiri puasa, maka rukyatul hilal hukumnya fardhu kifayah. Sehingga sudah seharusnyalah kita ikut ambil bagian dalam rukyatul hilal, minimal memperhatikan serta berusaha mendapatkan informasi tentang rukyatul hilal.
يفترض على المسلمين فرض كفاية ان يلتمسوا الهلال فى غروب اليوم التاسع والعشرين من شعبان ورمضان حتى يتبينوا أمر صومهم وافطارهم (الفقه على المذاهب الاربعة ج:1 ص:551)
Wajib kifayah atas umat Islam berusaha mencari (melihat) pada saat tenggelam matahari tanggal dua puluh sembilan Sya’ban dan Ramadhan sehingga mendapat kejelasan usrusan puasa dan idul fithri mereka. (Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah juz 1 hal 155)
تَرَائيِ هلال رمضان كغيره من الشهور فرض كفاية لما يترتب عليها من الفوائد الكثيرة اهـ (بغية المسترشدين ص 109 – 110 دار الفكر)
Melihat hilal Ramadhan sebagaimana juga bulan-bulan lainnya fardhu kifayah hukumnya, karena terdapat faedah yang banyak. (Bughyah al-Mustarsyidin hal 109 – 110).
SHALAT JAMA`AH
Oleh : Ahmad Dzul Hilmi Ghazali
Dalam pelaksanaan shalat, syari`at telah memberikan tuntunan agar dilakukan secara berjama`ah. Akan tetapi para ulama berbeda pandangan mengenai status hukum tuntutan syari`at tersebut. Di kalangan ulama syafi`i sendiri terdapat tiga pilihan hukum.
Pertama, sunnah muakkadah (سنة مؤكدة), seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Rafi`i. Hal ini berdasarkan sabda nabi saw.:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً} رَوَاهُ الشَّيْخَان}
(Shalat jama`ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat) hadits riwayat Bukhari dan Muslim
Dari hadits ini dapat diambil pengertian bahwa shalat jama`ah itu lebih utama, bukan merupakan kewajiban. Disamping itu Rasulullah saw. sendiri dalam melaksanankan shalatnya selalu berjama`ah semenjak beliau berhijrah ke Madinah.
Berita Duka
انّا للہ و انّا الیه راجعون
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un
Telah pergi ke rahmatullah, Bpk Drs. H. Moch. Manshur Qodir.
Wakil Ketua PCNU kota surabaya, pada hari selasa Pk, 01.30 WIB.
Alamat duka : Jl. Banowari 1 No. 5 Surabaya
