KAJIAN ZAKAT
ZAKAT FITHRAH, AMIL DAN PANITIA ZAKAT *)
Oleh. KH. Ahmad. Asyhar Shafwan**)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
- Pendahuluan
Harta adalah milik Allah dan manusia hanyalah sebagai khalifahNya dalam mengurus dan mengelola harta. Ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang itu, diantaranya
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا (المائدة : 17)
Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan di langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya. (QS Al-Maidah 5 : 17).
وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ [الحديد:7]
Nafkahkanlah (keluarkan) sebagian dari sesuatu (harta) di mana Allah telah menjadikan kamu sebagai khalifah (penguasa atas harta itu). (QS Al-Hadid 57 : 7).
لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ [النساء :29]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kamu dengan cara yang bathil (QS Al-Nisa’ 4 : 29).
Dari firman di atas dapat difahami bahwa pemilik sesungguhnya dari apa saja yang di langit dan di bumi serta isinya adalah Allah, sementara kata “kamu” dengan yang dimaksud manusia, menunjukkan bahwa peran manusia dalam pemanfaatan hara hanyalah sebagai khalifah (wakil)Nya. Oleh karena itu keyakinan bahwa manusia adalah wakil Allah di bumi (khalifah Allah fi al-ardhi) harus dimanifestasikan dalam bentuk pelaksanaan tugas-tugas kehkalifahan sesuai dengan aturan (syari’at)Nya dan diantara syari’at itu adalah membayar zakat.
Muhammad Ali Al-Shabuni dalam Al-Tashil fi ‘Ulum Al-Tanzil mejelaskan tentang pengertian khalifah bahwa “Semua harta yang ada ditangan kamu (manusia) pada hakekatnya adalah kepunyaan Allah, karena Dialah yang menciptakannya. Akan tetapi Allah memberikan hak kepada kamu (manusia) untuk memanfaatkannya. Allah menjadikan kamu (manusia) sebagai wakil-wakil-Nya dalam penggunaan harta-Nya tersebut. Jadi peranan kamu dalam pemanfaatan harta tak ubahnya hanya seperti wakil dari pemilik, bukan pemilik yang sesungguhnya. Karena itu janganlah kamu merintangi penginfakannya (penyaluran harta Allah) kepada pihak-pihak yang diperintahkan Sang Pemilik Allah SWT.”
- Pembahasan
- Zakat Fithrah
Zakat fithrah ialah zakat jiwa berupa makanan pokok yang dibayarkan kepada yang berhak menerimanya pada hari raya fithri.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ (رواه ابوداود وابن ماجه والدارقطني)
Diriwayatkan dari Ibn Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithrah sebagai penyuci bagi seorang yang berpuasa dari sesuatu yang tiada berguna dan pembicaraan kotor, dan sebagai makanan buat orang-orang miskin. Barang siapa menunaikannya sebelum shalat (‘id al-fithri), maka ia adalah zakat yang diterima dan barang siapa yang menunaikannya sesudah shalat (‘id al-fithri), maka ia adalah suatu shadaqah dari beberapa shadaqah. HR : Abu Dawud, Ibn Majjah dan al-Daraquthni
Syarat Wajib Membayar Zakat Fithrah : (1) Islam (2) Menjumpai terbenam matahari akhir Ramadlan (3) Ada kelebihan makanan pokok baik untuk dirinya dan keluarganya pada hari itu (hari raya) dan (4) Merdeka.[1]
a. Muzakki
Yang dimaksud muzakki (pewajib zakat) dalam zakat fithrah yaitu mereka yang pada dirinya terdapat sebab-sebab di atas. Zakat Fithrah pertama-tama dibayarkan atas nama dirinya, lalu orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya dengan tetap menjaga syarat di atas.[2]
Adapun teknis pembayarannya harus memeperhatikan :
1. Waktu, dalam hal ini mencakup waktu wajib, afdhal/sunnah, boleh dan makruh.[3]
Wajib, sejak terbenam matahari akhir Ramadlan.
Sunat / afdlal, sesudah shubuh pada hari raya hingga menjelang salat ‘id.
Boleh, sejak awal Ramadlan.
Makruh, sesudah salat ‘id hingga terbenam matahari pada hari raya kecuali ada tujuan yang lebih maslahah/penting.
2. Niat
Zakat sebagai ibadah memerlukan adanya niat. Niat ini dilakukan guna membedakan antara harta zakat dari harta yang selain zakat. Waktunya ketika menyerahkan zakat kepada panitia/amil atau mustahiq yang lain, dan juga boleh ketika memisahkan (menakar/menimbang) zakat, atau ketika sedang membawanya menuju ketempat panitia/amil atau mustahiq yang lain.[4] Niat itu apabila diungkapkan melalui lisan adalah :
نويت أن أخرج زكاة الفطر عن نفسي او عن ولدي ….. لله تعالى
Saya niat mengeluarkan zakat fithrah untuk diri saya/anak saya …… karena Allah Ta’ala.
Bahkan cukup dengan هذه فطرتي او هذه فطرة زوجتي (ini zakat fithahku / ini zakat fithrah istriku).[5]
Disamping itu bagi yang menerima zakat apakah dia panitia/amil ataupun mustahiq yang lain disunatkan membaca doa :[6]
آجرك الله فيما أعطيت وجعلها لك طهورا وبارك لك فيما أبقيت
Semoga Allah memberi pahala pada apa yang engkau berikan dan menjadikannya sebagai penyuci bagimu serta semoga Dia memberkahimu dalam harta yang masih tersisa.
3. Kadar Zakat
Ukuran makanan pokok yang harus dibayarkan sebagai zakat fithrah sebanyak satu sha’ sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi SAW :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ، ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى ، مِنَ الْمُسْلِمِينَ (رواه البخارى ومسلم)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithrah sebesar satu sha’ kurma kering atau satu sha’ gandum, atas setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan dari umat Islam. HR : Bukhari – Muslim
Sha’ adalah merupakan satuan ukuran takaran pada zaman Rasululullah SAW. Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih mengenal ukuran timbangan daripada takaran, lalu berapa satu sha’ itu ?
Ada beberapa pendapat mengenahi ukuran satu sha’ jika diukur dengan timbangan diantaranya : 2, 719,19 kg[7] dan 2,5 kg / 3,5 liter [8].
Namun jika kita menghendaki yang terbaik adalah tentu dengan cara menakar. Bagaimana membayar zakat fithrah dengan uang (qimah) ? Menurut jumhur ulama’ tidak mencukupi.[9]
b. Mustahiq
Orang-orang yang berhak menerima zakat fithrah adalah delapan golongan mustahiq zakat sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Taubah : 60. Pada sub ini akan dijelaskan tentang faqir dan miskin, mengingat kedua golongan ini adalah banyak kita jumpai ditengah-tengah masyarakat kita.
Faqir adalah orang yang tidak kuasa memenuhi kebutuhan minimalnya baik dengan hasil kerjanya ataupun hartanya. Dalam hal ini sebagaimana seseorang yang setiap harinya membutuhkan biaya hidup Rp 50.000,- misalnya, namun dia sama sekali tidak bisa mendapatkannya atau bisa namun tidak sampai separohnya. Adapun miskin ialah orang yang tidak kuasa memenuhi kecukupan minimalnya baik dengan hasil kerjanya atau hartanya. Semisal seseorang setiap harinya memerlukan biaya hidup yang cukupnya Rp 70.000,- namun ia hanya bisa menghasilkan diatas separo misalnya Rp 40.000,-[10]. Al-Ghazali berpendapat bahwa miskin adalah orang pemasukannya tidak mencukupi pengeluarannya.[11]
Dalam madzhab Syafi’i pembagian zakat harus disalurkan kepada semua ashnaf yang ada, berbeda dengan tiga madzhab yang lain dimana zakat boleh diberikan satu ashnaf saja. Namun sebagian ulama’madzhab Syafi’i seperti Ibn ‘Ujail membolehkan memberikan zakat kepada seorang mustahiq saja.[12]
- Amil Zakat Dan Oanitia Zakat
- Pengertian Amil Dan Panitia
Amil ialah para petugas yang diberi kewenangan secara khusus oleh pihak pemerintah untuk mengurus zakat.
والعامل من استعمله الامام على أخذ الصدقات ود فعها لمستحقها
Amil yaitu orang diberi tugas oleh imam untuk memungut zakat dan menyerahkannya kepada mustahiq (yang berhak) menerimanya.[13]
وأماالعاملون عليها فهم الذين نصبهم الإمام لجباية الصدقات
Adapun Amil Zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh imam untuk mengumpulkan shadaqah (zakat).[14]
ويجب على الامام او نائبه بعث السعاة لأخذ الزكاة
Seorang imam atau penggantinya wajib menganngkat petygas-petugas gunan memungut zakat.[15]
العاملون على الزكاة وهم الذين يوليهم الامام او نائبه العمل على جمعها
Amil yaitu orang-orang yang diberi kuasa (mandat) oleh imam atau penggantinya guna mengumpulkan zakat.[16]
Adapun panitia zakat ialah sekelompok orang-orang tertentu yang memperoleh kepercayaan/amanat/mandat dari pihak lain (ta’mir masjid, mushalla, madrasah, RT dan lain-lain) dalam mengurus zakat.
Dengan demikian panitia zakat adalah pihak yang dipersiapkan oleh pihak tertentu guna menerima amanah menyalurlan zakat dari para muzakki kepada para mustahiq.
Perhatikan keterangan berikut :
(باب الوكالة) وهي استنابة جائز التصرف مثله فيما تدخله النيابة
Wakalah ialah permintaan sebagai pengganti oleh orang yang punya kewewenangan tasarruf kepada sesamanya dalam urusan yang bisa digantikan.[17]
وفي الشرع تفويض شخص شيأ له فعله مما يقبل النيابة الى غيره ليفعله حال حياته
Wakalah menurut syara’ adalah penyerahan oleh seseorang pada sesuatu yang boleh ia kerjakan tentang urusan-urusan yang bisa digantikan, kepada orang lain agar dikerjakannya diwaktu pihak yang menyerahkan masih hidup.[18]
b. Keduddukan Amil Dan Panitia
Memperhatikan pengerian amil zakat dan panitia zakat di atas maka amil statusnya/posisinya sebagai petugas yang secara resmi diangkat oleh pihak pemerintah, sedang panitia dibentuk oleh pihak tertentu yang dipersiapkan untuk melayani para muzakki yang menginginkan urusan penyaluran zakatnya bisa sampai kepada para mustahiq melalui pihak lain.
ويجوز أن يوكل من يفرق لانه حق مالي فجاز أن يوكل في أدائه كديون الآدميين ويجوز أن يدفع إلى الإمام لانه نائب عن الفقراء فجاز الدفع إليه كولي اليتيم
Diperbolehkan seseorang mewakilkan kepada orang lain agar ia membagi (zakat) karena itu hak hartawy, jadi seseorang diperbolehkan mewakilkan dalam pembayaran harta seperti halnya hutang terhadap sesama manusia. Dan boleh juga seseorang menyerahkan kepada imam, karena ia pengganti dari fuqara’, maka boleh menyerahkan kepadanya seperti halnya wali dari anak yatim.[19]
قوله أو إعطاء وكيل أي أوعند إعطاء وكيل عنه في تفرقة الزكاة على المستحقين ولا يشترط نية الوكيل عند الصرف للمستحقين لوجود النية من المخاطب بالزكاة مقارنة لفعله إذ المال له وبه فارق نية الحج من النائب لأنه المباشر للعبادة قوله أو إمام معطوف على وكيل أي وتكفي النية ثم إعطاء إمام الزكاة لأن الإمام نائب المستحقين فالدفع إليه كالدفع إليهم ولهذا أجزأت وإن تلفت عنده بخلاف الوكيل
(Niat zakat) bisa dilakukan ketika memberikan zakat kepada wakil dari pihak muzakki dalam urusan membagi zakat kepada para mustahiq dan tidak disyaratkan wakil melakukan niat ketika mentasarufkan/menyalurkan kepada para mustahiq, karena sudah adanya niat dari pihak pewajib zakat disaat bersamaan dengan pekerjaannya, sebab harta adalah miliknya. Hal ini berbeda dengan niat dari pihak pengganti (wakil) dalam ibadah haji, karena dialah pelaku langsung terhadap ibadah. Atau (niat zakat) bisa dilakukan ketika memberikan zakat kepada imam (amil), karena imam sebagai pengganti (wakil) para mustahiq. Maka menyerahkan zakat kepadanya sebagaimana menyerahkan kepada para mustahiq. Oleh karenanya zakat dianggap cukup (sah) sekalipun zakat rusak ditagannya, berbeda halnya dengan wakil muzakki (panitia).[20]
Dari keterangan diatas menjadi jelaslah bahwa amil sebagai wakil para mustahiq dan panitia sebagai wakil dari para muzakki, sehingga zakat sudah sah jika telah diterima oleh amil dan masih dalam proses jika zakat ada ditangan panitia hingga zakat sampai ditangan mustahiqnya.
- Tugas Amil Dan Panitia Zakat
Tugas Amil (wakil mustahiq) mencakup semua urusan yang terkait dengan pengurusan zakat, mulai dari memberitahu (publikasi), mengumpulkan, membagikan, mencatat, menghitung, menjaga dan hal-hal lain yang diperlukan.
ويجب على الامام او نائبه بعث السعاة لأخذ الزكاة (وليعلم) الامام او الساعي ند با (شهرا لاخذها) اي الزكاة ليتهيأ ارباب الاموال لدفعها والمستحقون لأخذها
Wajib atas seorang imam atau penggantinya mengangkat petugas-petugas guna memungut zakat. Dan hendaknya seorang imam atau petugasnya memberitahukan bulan pemungutan zakat agar para pemilik harta (pewajib zakat) bersiap-siap menyerahkannya dan para mustahiq mengambilnya.[21]
والعامل من استعمله الامام على أخذ الصدقات ودفعها لمستحقها (قوله العامل من إستعمله الإمام الخ) أي كساع يجبيها وكاتب يكتب ما أعطاه أرباب الأموال وقاسم يقسمها على المستحقين وحاشر يجمعهم
Amil yaitu orang diberi tugas oleh imam untuk memungut zakat dan menyerahkannya kepada mustahiqnya, seperti petugas yang mengumpulakan zakat, pencatat yang bertugas mencatat harta yang dibayarkan oleh para pemilik harta, pembagi yang bertugas membagi zakat kepada para mustahiq dan pengkordinir yang bertugas mengumpulkan para mustahiq.[22]
Adapun tugas Panitia tidaklah seluas tugas-tugas amil, melainkan sebatas yang dikehendaki oleh pihak yang memberi mandat (muwakkil/muzakki). Jadi tugas panitia terbatas pada urusan yang dimandatkan dari pihak muzakki kepadanya.
وجاز توكيل المالك كافرا أو صبيا أي مميزا ومثلهما السفيه وعبارة التحفة مع المنهاج وله إذا جاز له التفرقة بنفسه التوكيل فيها لرشيد وكذا لنحو كافر ومميز وسفيه إن عين له المدفوع له وأفهم قوله له أن صرفه بنفسه أفضل اه
Boleh pemilik (harta) mewakilkan kepada orang kafir atau anak yang sudah tamyiz dan demikian pula kepada safih (orang dungu). Ungkapan kitab Tuhfah serta Minhaj “ Boleh bagi pemilik (harta) ketika ia sendiri boleh membagi (zakat) mewakilkannya kepada anak yang sudah rasyid (mampu mengurus) dan demikian pula kepada semisal orang kafir, anak yang sudah tamyiz (mengerti) dan safih (orang dungu), jika sipemilik menentukan / menunjuk orang menerimanya. Ungkapan muallif ini memberikan kesimpilan bahwa mentasarufkan zakat secara langsung oleh dirinya sendiri adalah lebih utama.[23]
Oleh karena tugas amil (wakil mustahiq) dan panitia (wakil muzakki) berbeda, maka seseorang yang diangkat menjadi amil haruslah memenuhi persyaratan – persyaratan, dan tidak demikian halnya dengan wakil.
ويشترط في هذا أن يكون فقيها بما فوض إليه منها وأن يكون مسلما مكلفا حرا عدلا سميعا بصيرا ذكرا لأنه نوع ولاية
Disyaratkan dalam mengurus zakat ini amil harus memahami betul terhadap tugas yang diserahkan kepadanya, muslim, mukallaf, merdeka, adil, mendengar, melihat, laki-laki, karena ini satu macam dari kewilayahan (kekuasaan).[24]
وشرط في الوكيل صحة مباشرته ما وكل فيه كالموكل لأنه إذا لم يقدر على التصرف فيه لنفسه فلغيره أولى فلا يصح توكيل صبي ومجنون ومغمى عليه
Syarat seorang wakil yaitu sah melakukan terhadap apa yang diserahkan kepadanya sebagaimana halnya syarat muwakkil. Karena jika ia sendiri tidak mampu mentasarufkan untuk dirinya lebih-lebih untuk orang lain. Maka tidak sah mewakilkan kepada anak-anak, orang gila dan orang ayan.[25]
d. Hak Amil Dan Panitia Dari Zakat
Sesuai dengan surat al-Taubah : 60 bahwa yang berhak menerima zakat (mustahiq) adalah amil (wakil mustahiq) dan bukan wakil muzakki (panitia). Lalu berapa kadar yang menjadi hak amil ? Adalah sebatas ongkos sepadan/yang sewajarnya menurut tugas yang dikerjakannya.
ويعطى العاملون عليها بقدر أجور مثلهم فيما تكلفوا من السفر وقاموا به من الكفاية لا يزادون عليه شيئا
Amil zakat diberi (bagian) sekadar ongkos sepadan sesuai kesulitan tugasnya dan kecukupannya, tidak boleh lebih sedikit pun.[26]
ويأخذ العاملون عليها بقدرأجورهم في مثل كفايتهم وقيامهم وأمانتهم
Amil zakat berhak mengambil sekadar ongkos yang sepadan dengan kecukupan, tugas dan tanggung jawabnya.[27]
والذي يستحقه العامل أجرة مثل عمله فقط فإن استؤجر بأكثر من ذلك بطلت الإجارة والزائد من سهمه على أجرته يرجع للأصناف
Yang menjadi hak amil adalah ongkos sepadannya saja. Maka jika di beri ongkos lebih dari itu batallah pengongkosannya dan bagian (pendapatan) yang melebihi ongkosnya harus dikembalikan kepada asnaf – asnaf yang lain.[28]
- Penutup
Jelaslah bagi kita bahwa antara amil dengan panitia zakat itu berbeda dalam banyak hal, mulai dari proses pengangkatannya, status dan posisinya, tugas dan tanggung jawabnya dan pendapatannya (haknya) dari zakat. Yang terpenting setelah konsep tentang amil dan panitia zakat menjadi jelas duduk persoalannya, ada upaya dan usaha dari kita untuk menata kembali hal-hal yang kurang pas dengan prosedur yang semestinya sehingga forum semacam ini tidaklah hanya sebatas kajian ilmiah belaka, melainkan harus ada upaya mentathbiq/menerapkannya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
*) Dikaji dalam Nadwah Ilmiyyah di MWC NU Gununganyar, 26 Ramadhan 1431 H
**) Katib Syuriyah PCNU Kota Surabaya
[1] Al-Khathib al-Syarbini, al-Iqna’ fi Hall Alfazh Abi Syuja’, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1998), 429
[2] Al-Khathib al-Syarbini, al-Iqna’ fi Hall Alfazh Abi Syuja’, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1998), 429
[3] Muhammad Nawawi a-Jawi, Nihayah al-Zain Syarh Qurrah al-‘Ain, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2002), 153
[4] Muhammad Nawawi a-Jawi, Nihayah al-Zain Syarh Qurrah al-‘Ain, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2002), 153
[5] Ibn Hajar al-Haitami, Fatawa Ibn Hajar al-Haitami, vol. 2 (Dar al-Fikr, 1983), 51
[6] Al-Imam al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, vol. 7 (Dar al-Fikr, 1995), 153
[7] Risalah Daftar Nishob Zakat dan Istilah Ukuran dalam Kitab Fiqih, (Kediri: Jam’iyyah Musyawarah Riyadlah al-Thalabah, tth.)
[8] MUI, Tuntunan Praktis Tentang Zakat, Infaq dan Sedekah, (Jakarta: MUI, 1994), h. 19
[9] Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, vol. 2 (Damasykus : Dar al-Fikr, 1405-1985), 911
[10] Muhammad Nawawi a-Jawi, Nihayah al-Zain Syarh Qurrah al-‘Ain, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2002), 153
[11] Al-Khthib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh al-Minhaj, vol. 3 (Dar al-Kutub al-ILmiah, 2000),136
[12] Abd al-Rahman Ba ‘Alawi, Bughyah al-Mustarsyidin (Dar al-Fikr,tt), 105
[13] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri, vol. 1, h. 283
[14] Al-Kasani, Badai’ al-Shanai’, vol. 2, h. 44
[15] Muhammad bin Ahmad al-Syafii, Nihayah al-Muhtaj, vol. 6, h. 168
[16] Al-Sayyid al-Sabiq, Fiqh al-Sunnah, vol. 1, h. 168
[17] Mur’a bin Yusuf al-Hanbali, Dalil al-Thalib, vol. 1, h. 133
[18] Fath al-Qarib Hamisy Hasyiyah al-Bajuri, vol. 1, h. 286
[19] Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Syirazi, al-Muhadzdzab, vol. 1, h. 168
[20] Al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, vol. 2, h. 182
[21] Muhammad bin Ahmad al-Syafi’i, Nihayah al-Muhtaj, vol. 6, h. 168
[22] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri, vol. 1, h. 286
[23] Al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, vol. 3, h. 184
[24] Al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, vol. 2, h. 190
[25] Al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, vol. 3, h. 184
[26] Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Umm, vol. 2, h. 75
[27] Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Umm, vol. 2, h. 86
[28] Ibn Hajar al-Haitami, Minhaj al-Qawim, 494