<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PCNU Surabaya</title>
	<atom:link href="http://www.nusurabaya.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.nusurabaya.or.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Feb 2012 04:01:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hikmah dan Manfaat Shalat Berjama&#8217;ah</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hikmah-dan-manfaat-shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hikmah-dan-manfaat-shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 03:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Maghfur]]></category>
		<category><![CDATA[keampuhan berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat berjamaah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh,
H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.Pd.I
Menurut Jumhur Ulama’, sholat berjama’ah hukumnya sunnah muakkad, sedangkan menurut Imam Ahmad Bin Hanbal, sholat berjama’ah hukumnya wajib. Rosulullah SAW selama hidupnya sebagai Rosul belum pernah meninggalkan sholat berjama’ah di masjid meskipun beliau dalam keadaan sakit. Rosululah SAW pernah memperingatkan dengan keras keharusan sholat berjama’ah di masjid, sebagai mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><a rel="attachment wp-att-289" href="http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hikmah-dan-manfaat-shalat-berjamaah/3-2/"><img class="alignnone size-full wp-image-289" src="http://www.nusurabaya.or.id/wp-content/uploads/2012/02/31.bmp" alt="" /></a></p>
<p style="text-align: center">Oleh,</p>
<p style="text-align: center">H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.Pd.I</p>
<p>Menurut Jumhur Ulama’, sholat berjama’ah hukumnya sunnah muakkad, sedangkan menurut Imam Ahmad Bin Hanbal, sholat berjama’ah hukumnya wajib. Rosulullah SAW selama hidupnya sebagai Rosul belum pernah meninggalkan sholat berjama’ah di masjid meskipun beliau dalam keadaan sakit. Rosululah SAW pernah memperingatkan dengan keras keharusan sholat berjama’ah di masjid, sebagai mana diuraikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori Muslim berikut :</p>
<p style="text-align: right">وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدهممت أن اَمُرَ بِحَطْبٍ فَيَحْتَطِبُ ثُمَّ اَمُرَ بِا لصَّلاَةِ فَيُؤَذِّنَ لَهَا ثُمَّ اَمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ, ثُمَّ اُخَالِفَ اِلَى رَجُالٍ لاَيَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحْرِقَ عَلَيْهِم بُيُوتَهُمْ – متفق عليه</p>
<p><em>“Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku bertekad menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku suruh seorang adzan untuk sholat dan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak ikut sholat, kemudian aku bakar rumah mereka”</em></p>
<p>Pada suatu saat Rosulullah didatangi oleh salah satu sahabat yang dicintainya, yaitu Abdullah Bin Umi Maktum. Ia berkata kepada Rosulullah bahwa dirinya buta dan tidak ada yang menuntunnya ke masjid sehingga ia memohon kepada Nabi untuk memberinya keringanan untuk tidak melaksanakan sholat berjama’ah di masjid.<span id="more-284"></span> Selanjutnya Rosulullah bertanya kepadanya:</p>
<p style="text-align: right">هَلْ تَسْمَعُ النّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟ قَالَ نَعَمْ. قَالَ : فَأَجِبْ.</p>
<p><em>“Apakah kamu mendengar adzan?” dia menjawab: “Ya”, lalu Rasul Bersabda: “Maka datangilah”</em></p>
<p>Begitulah seruan Rosulullah kepada umatnya agar senantiasa menunaikan sholat berjama’ah di masjid sekalipun kepada sahabatnya yang tidak bisa melihat alias buta. Bagaimana dengan kita umatnya, yang diberikan kenikmatan yang sempurna. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rosulullah bersabda :</p>
<p style="text-align: right">لاَصَلاَةَ لِمَنْ جَارَ الْمَسْجِدَ اِلاَّ بِالْجَمَاعَة وَفِى رِوَايَة اِلاَّ فِى الْمَسْجِد – رواه احمد</p>
<p><em>“Tidak sempurna sholat seseorang yang bertetangga dengan masjid kecuali dengan berjama’ah. Dalam suatu riwayat, kecuali di masjid”.</em></p>
<p>Hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya sholat berjama’ah. Rosulullah menekankan bahwa sholat jama’ah dilaksanakan di masjid. Karena masjid didirikan bukan untuk bemegah-megahan, melainkan untuk diramaikan atau dimakmurkan. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 18 :</p>
<p style="text-align: right">إنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ أمَنَ بِاللهِ وَاليَوْمِ الأخِرِ وَأقَامَ الصَّلاَةَ وَأَتَى الزَّكَوةَ وَلَمْ يَخْشَ إلاَّ اللهَ</p>
<p><em>“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.”</em></p>
<p>Banyak keutamaan dan manfa’at yang bisa diperoleh ketika seseorang menunaikan sholat berjama’ah. Ada keutamaan yang diperoleh di dunia dan juga ada keutamaan atau manfaat yang bisa diperoleh nanti di akhirat. Diantara keutamaan atau <a href="http://m-alwi.com/hikmah-dan-manfaat-sholat-berjamaah.html" target="_blank">manfaat dari sholat berjamaah</a> adalah sebagai berikut:</p>
<p>1.  Allah akan melipatgandakan pahala sholat berjama’ah sampai dua puluh tujuh derajat.</p>
<p style="text-align: right">قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : صَلاَة الْجَمَاعَة اَفْضَلُ مِنَ صَلاَةِ الفَدِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَة  متفق عليه</p>
<p><em>“Sholat berjama’ah itu lebih utama dari sholat sendiri dengan dilipatkan sampai dua puluh tujuh derajat”</em></p>
<p>2. Menjauhkan diri dari sifat munafik. Karena di antara sifat orang munafik adalah bermalas-malasan dalam sholat. Hal ini tertera dalam surat An-Nisa’ ayat 142:</p>
<p style="text-align: right">إنَّ المُنَفِقِيْنَ يُخَدِعُوْنَ اللهَ وَهُوَ خَدِعُهُمْ وَإذَا قَامُوا إلىَ الصَّلاَةِ قَامُوْا كُسَالَى يُرَاءُوْنَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إلاَّ قَلِيْلاً</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah. Dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”</em></p>
<p>Dalam sebuah hadits Nabi bersabda:</p>
<p style="text-align: right">إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا</p>
<p><em>“Tidaklah ada sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafik melebihi sholat Shubuh dan Isya’. Dan seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan datang (berjama’ah) meskipun dengan merangkak.”</em> (Muttafaqun ‘Alaih)</p>
<p>3. Menjadi sebab diampuni dosanya oleh Allah. Rosulullah bersabda :</p>
<p style="text-align: right">إِذَا قال اْلإِمَامُ (غَيْرِ اْلمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضّآلّين) فَقُوْلوُا : آمين, فَإِنَّهُ مِنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلُ اْلمَلاَئِكَةِ غَفِرَ لَهُ ماَتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ — رواه البجارى و مسلم</p>
<p><em>“Jika imam mengucapkan “Ghoiril maghdhubi ‘alaihim waladhdholliin”, maka ucapkan amin, karena sesungguhnya siapa yang mengucapkan amin bersamaan dengan ucapan malaikat maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”</em></p>
<p>Dalam hadits lain Nabi bersabda:</p>
<p style="text-align: right">مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ وَأَسْبَغَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ (رواه النسائي)<em></em></p>
<p><em>“Barangsiapa yang berwudhu untuk sholat dan menyempurnakan wudhunya, lalu berjalan untuk menunaikan sholat, dan ia sholat bersama manusia atau berjama’ah atau di dalam masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”</em></p>
<p>4. Mengembangkan disiplin dan berakhlak mulia. Sholat berjama’ah mengajarkan disiplin seorang makmun senantiasa mengikuti gerakan imam dan berada di belakang imam. Hal ini tentu membiasakan melatih kedisiplinan dalam kehidupan seseorang, menghilangkan ego, perbedaan dan dengan penuh kerendahan hati patuh dan taat pada pimpinannya, yaitu imam.”</p>
<p>Rosulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: right">اِنَّمَاجُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمٌ بِهِ, فَلاَ تَحْتَلِفُ عَلَيْهِ, وَإِذَا كَبُرَ فَكَبِّرُوْا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوْا وَإذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا وَإذَا صَلّىَ جَالِسًا فَصَلّو جُلُوْساً أجْمَعِيْنَ</p>
<p>5. Tumbuhnya persaudaraan, kasih sayang dan persamaan.</p>
<p>Apabila kita bertemu lima kali dalam sehari, maka akan tumbuh kasih sayang diantara sesama muslim. Dan jika suatu waktu ada saudara kita yang biasa berjama’ah kemudian beberapa waktu tidak hadir di masjid, maka kita akan bertanya-tanya, ada apa atau mengapa ia tidak berjama’ah? Seandainya jawaban yang didapat bahwa beliau itu sakit, maka kita akan bergegas menjenguk dan mendo’akannya.</p>
<p>Sholat berjama’ah juga mengajarkan persamaan : tidak dibedakan antara yang kaya dan yang miskin, seorang pejabat atau rakyat jelata, atasan atau bawahan, semua berdiri, ruku’, sujud, dan duduk dalam satu barisan untuk taat dan tunduk kepada Allah. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right">اِنَّ اللهَ يُجِبُّ الَّذِيْنَ يُقَا تِلُونَ فِى سَبِيْلِهِ صَفًّا كَأَ نَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya, dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang sangat kokoh”.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hikmah-dan-manfaat-shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan dan Keutamaan Shalat Tahajjud</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kedudukan-dan-keutamaan-shalat-tahajjud/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kedudukan-dan-keutamaan-shalat-tahajjud/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 19:24:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Oleh, H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.P.d.I
Shalat Tahajjud memiliki kedudukan yang sangat tinggi apabila dibandingkan dengan shalat-shalat sunnah yang lain. Hal itu terjadi karena Shalat Tahajjud pernah menjadi Shalat yang diwajibkan sebelum wajibnya Shalat Lima Waktu, meskipun kewajiban itu hanya bagi Rasulullah saw.[1]
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">Oleh, H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.P.d.I<a rel="attachment wp-att-281" href="http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kedudukan-dan-keutamaan-shalat-tahajjud/attachment/2/"><img class="alignright size-full wp-image-281" src="http://www.nusurabaya.or.id/wp-content/uploads/2012/02/2.bmp" alt="" /></a></p>
<p>Shalat Tahajjud memiliki kedudukan yang sangat tinggi apabila dibandingkan dengan shalat-shalat sunnah yang lain. Hal itu terjadi karena Shalat Tahajjud pernah menjadi Shalat yang diwajibkan sebelum wajibnya Shalat Lima Waktu, meskipun kewajiban itu hanya bagi Rasulullah saw.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: right"><strong>أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ</strong> ) <em>رواه النسائى والدرمى</em>(</p>
<p><em>“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. dan shalat yang terbaik setelah shalat lima waktu adalah shalat malam”.</em> (HR. Nasai dan Darami)<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Bahkan secara khusus Allah berfirman seraya menyeru kepada Nabi Muhammad tentang shalat malam tersebut:<span id="more-280"></span></p>
<p><em>“Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah (untuk melakukan shalat) di malam hari</em><a href="#_ftn3">[3]</a>, <em>kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit”</em>. (QS. Al-Muzammil; 1-3)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat juga telah dinyatakan:</p>
<p><strong>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: ثَلاَثَةٌ عَلَيَّ فَرِيْضَةٌ، وَهِيَ لَكُمْ سُنَّةٌ: الْوِتْرُ، وَالسِّوَاكُ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ </strong>) <em>رواه البيهقي</em>(</p>
<p><em>“Dari Aisyah ra, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Terdapat tiga hal yang wajib bagiku namun sunnah bagi kalian, yaitu Shalat Witir, bersiwak, dan shalat malam”.</em> (HR. Baihaqi)<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Oleh karena itu, Imam Syafi’i pernah mengatakan: “Barangsiapa meninggalkan salah satu dari Shalat Tahajjud dan Shalat Witir maka orang tersebut lebih jelek dari orang yang meninggalkan shalat yang disunnahkan pada siang dan malam hari secara keseluruhan”.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Shalat Tahajjud memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan lebih utama apabila dibanding dengan shalat-shalat malam yang lain. Hanya Shalat Witir yang menyamai kedudukan Shalat Tahajjud. Baru kemudian Shalat Dua Rakaat Fajar berada di bawah keduanya.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Meninggalkan Shalat Tahajjud bagi orang yang terbiasa melaksanakannya hukumnya adalah makruh.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Imam Abu al-Walid an-Naysaburi menyatakan: “Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa orang yang istiqamah melakukan Shalat Tahajjud dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada keluarganya kelak ketika berada di akhirat”.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dalam sebuah cerita, ada seorang ulama yang bermimpi bertemu dengan Imam al-Junaidi al-Baghdadi, ulama tersebut bertanya kepadanya: “Apa yang engkau peroleh dari Allah?” Imam Junaidi menjawab: “Petunjuk-petunjuk itu membingungkan, contoh-contoh itu sirna, dan ilmu-ilmu itu raib. Tidak ada yang memberikan manfaat kepadaku melainkan hanya shalat yang aku kerjakan pada waktu sahur (Shalat Tahajjud)”.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> An-Nawawi al-Jawi, <em>Murâch Labîd, </em>103. Isma’il al-Baruswi, <em>Rawchu al-Bayân, </em>X/258. Al-Chaqqi, <em>Tafsîr Chaqqi, </em>XVI/352. Abu Hanifah, <em>Musnadu Abi Hanîfah, </em>I/53. Muhammad Anwar Syah bin Mu’adzim, <em>Al-‘Urfu as-Syadzi Syarhi Sunan Tirmidi, </em>II/40. Al-Mawardi, <em>Al-Châwî al-Kabir fî Fiqhi asy-Syâfi’î</em>, II/376</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Al-Nasa’i, <em>Sunan al-Kubrâ, </em>I/414/1313. Ad-Darami, <em>Sunan ad-Darami, </em>III/23/1483</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Shalat malam ini pada mulanya wajib sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. Setelah turunnya ayat ke 20 maka hukumnya menjadi sunnah</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Al-Baihaqi, <em>Sunan al-Kubrâ, </em>X/152/13434. Jalaluddin As-Suyuthi, <em>Jâmi’u al-Masânidi wa al-Marâsili, </em>IV/176/10930. Al-Mutqi al-Hindi, <em>Kanzu al-Ummâli</em>, I/1421/19540</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Asy-Syafi’i, <em>Al-Umm</em>, I/74. Al-Muzani, <em>Mukhtasharu al-Muzani</em>, I/32. Al-Mawardi, <em>Al-Châwî al-Kabir fî Fiqhi asy-Syâfi’î</em>, II/363</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Asy-Syafi’i, <em>Al-Umm</em>, I/74. Al-Muzani, <em>Mukhtasharu al-Muzani</em>, I/32. Al-Mawardi, <em>Al-Châwî al-Kabir fî Fiqhi asy-Syâfi’î</em>, II/363</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Al-Khatib asy-Syarbini, <em>Al-Iqnâ’ fî Challi Alfâdzi Abî Sujâ’, </em>I/257. Al-Khatib asy-Syarbini, <em>Mughnî al-Muchtâj ilâ Ma’rifati Ma’âni Alfâdzi al-Minhâj, </em>I/301. Sulaiman al-Bujairami, <em>Châsyiyatu al-Bujairami ‘Ala al-Khatîb, </em>I/213. Al-Mawardi, <em>Al-Châwî al-Kabir fî Fiqhi asy-Syâfi’î</em>, II/376</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Al-Khatib asy-Syarbini, <em>Al-Iqnâ’ fî Challi Alfâdzi Abî Sujâ’, </em>I/257. Al-Khatib asy-Syarbini, <em>Mughnî al-Muchtâj ilâ Ma’rifati Ma’âni Alfâdzi al-Minhâj, </em>I/301. Sulaiman al-Bujairami, <em>Châsyiyatu al-Bujairami ‘Ala al-Khatîb, </em>I/213. Al-Mawardi, <em>Al-Châwî al-Kabir fî Fiqhi asy-Syâfi’î</em>, II/376</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Al-Khatib asy-Syarbini, <em>Al-Iqnâ’ fî Challi Alfâdzi Abî Sujâ’, </em>I/257. Al-Khatib asy-Syarbini, <em>Mughnî al-Muchtâj ilâ Ma’rifati Ma’âni Alfâdzi al-Minhâj, </em>I/301. Sulaiman al-Bujairami, <em>Châsyiyatu al-Bujairami ‘Ala al-Khatîb, </em>I/213. Al-Mawardi, <em>Al-Châwî al-Kabir fî Fiqhi asy-Syâfi’î</em>, II/376</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kedudukan-dan-keutamaan-shalat-tahajjud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anjuran dan Manfaat Shalat Tahajjud</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/anjuran-manfaat-shalat-taha/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/anjuran-manfaat-shalat-taha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 23:29:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[ANJURAN DAN MANFAAT 
MelaksanaKan Shalat Tahajjud
oleh,
H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.Pd.I
Melaksanakan Shalat Tahajjud adalah merupakan anjuran Rasulullah r, bahkan jika tidak hawatir memberatkan terhadap ummatnya pasti shalat Tahajjud wajib hukumnya. Semua ini  tertuang dalam ayat Al Quran dan juga beberapa hadits. Diantaranya adalah:
“Bertahajjudlah pada sebagian waktu malam sebagai tambahan bagimu, niscaya Tuhanmu mengirimimu kedudukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong><a rel="attachment wp-att-272" href="http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/anjuran-manfaat-shalat-taha/attachment/1/"><img class="alignleft size-full wp-image-272" src="http://www.nusurabaya.or.id/wp-content/uploads/2012/02/1.bmp" alt="" /></a>ANJURAN DAN MANFAAT </strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>MelaksanaKan Shalat Tahajjud</strong></p>
<p style="text-align: center">oleh,</p>
<p style="text-align: center">H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.Pd.I</p>
<p>Melaksanakan Shalat Tahajjud adalah merupakan anjuran Rasulullah r, bahkan jika tidak hawatir memberatkan terhadap ummatnya pasti shalat Tahajjud wajib hukumnya. Semua ini  tertuang dalam ayat Al Quran dan juga beberapa hadits. Diantaranya adalah:<span id="more-270"></span></p>
<p><em>“Bertahajjudlah pada sebagian waktu malam sebagai tambahan bagimu, niscaya Tuhanmu mengirimimu kedudukan yang terpuji”.</em> (QS. Al Isra’; 79)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: right"><strong> </strong><strong>يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ </strong> <em>رواه الحاكم والبيهقى والترمذى وأحمد وابن ماجه</em></p>
<p><em>“Rasulullah</em><em> bersabda: “Wahai para manusia! Tebarkan salam, berikanlah makan, dan shalatlah pada malam hari tatkala manusia terlelap dalam tidur, niscaya kalian akan dapat masuk surga dengan selamat”.</em> (HR. Hakim, Baihaqi, Tirmidzi, Achmad, Ibnu Majah)<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Hadits ini disabdakan oleh Rasulullah ketika baru memasuki Madinah pada saat hijrah. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah sangat menekankan untuk melaksanakan Shalat Tahajjud.</p>
<p>Sahabat Chissan Bin Athiyyah juga meriwayatkan sebuah hadits:</p>
<p style="text-align: right"><strong>رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمُا ابْنُ آَدَمَ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ اْلآَخِرِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا، وَلَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَفَرَّضْتُهُمَا عَلَيْهِمْ.</strong> <em>رواه ابن ناصر</em></p>
<p><em>“Shalat dua rakaat yang dilakukan anak adam (manusia) pada tengah malam yang akhir, (pahalanya) lebih baik baginya dari pada dunia beserta isinya, dan jika saja saya tidak hawatir memberatkan kepada ummatku, niscaya aku wajibkan dua rakaat itu kepada anak adam”.</em> (HR. Ibnu Nashir)<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Sahabat lbnu Mas&#8217;ud ra menerangkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:</p>
<p style="text-align: right"><strong>ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ </strong>e<strong> رَجُلٌ نَامَ لَيْلَةً حَتَّى أَصْبَحَ، قَالَ: ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِيْ أُذُنَيْهِ </strong> <em>متفق عليه</em></p>
<p><em>“Diceritakan di sisi Nabi</em> r, <em>tentang seorang lelaki yang tidur pada malam hari (dan  tidak terbangun) sampai shubuh, beliau bersabda: “Lelaki itu adalah orang yang kedua telinganya dikencingi oleh Syaitan”.</em> (HR. Bukhari dan Muslim)<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Sahabat Abu Hurairah ra menjelaskan sabda Rasulullah saw:</p>
<p><strong>قَالَ رَسُوْلُ اللهِ </strong>e<strong>: رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ وَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِيْ وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِيْ وَجْهِهِ الْمَاءَ </strong>) <em>رواه أحمد وأبو داود وابن خزيمة وابن حبان والبيهقي والنسائي وابن ماجه</em>(<strong> </strong></p>
<p><em>“Rasulullah saw</em><em> bersabda: “Allah menyayangi seorang lelaki yang terbangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan istrinya, jika istrinya tidak mau, maka dia memercikkan air ke wajah istrinya. Dan Allah menyayangi seorang perempuan yang terbangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika suaminya tidak mau, maka dia memercikkan air ke wajah suaminya”.</em> (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban, Baihaqi, Nasai, dan Ibnu Majah)<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam sebuah hadits sahabat Ali bin Ali Thalib ra meriwayatkan:</p>
<p style="text-align: right"><strong> </strong><strong>أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ </strong><strong>طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لَيْلَةً فَقَالَ: أَلاَ تُصَلِّيَانِ؟ </strong> <em>رواه البخاري وأحمد والبيهقي</em></p>
<p><em>“Sesungguhnya Nabi </em>r<em> mendatanginya dan Fathimah pada malam hari, lalu beliau bersabda: “Apakah kalian tidak melaksanakan shalat (Tahajjud )&#8221;.</em> (HR. Bukhari, Ahmad, dan Baihaqi)<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Sahabat &#8216;Abdullah bin Umar dan sahabat Abdullah bin Ash ra meriwayatkan:</p>
<p style="text-align: right"><strong> يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ. كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ </strong><em>متفق عليه</em><strong> </strong></p>
<p><em>“Rasulullah </em><em>r</em><em> bersabda: “Wahai Abdullah, janganlah kamu menjadi seperti seseorang yang terbangun pada malam hari lalu meninggalkan shalat malam”.</em> (HR. Bukhari dan Muslim)<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Sahabat Abdullah bin Umar bin Khatthab ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah pernah bersabda:</p>
<p style="text-align: right"><strong>نِعْمَ</strong><strong> </strong><strong>الرَّجُلُ</strong><strong> </strong><strong>عَبْدُ</strong><strong> </strong><strong>اللهِ  لَوْ  كَانَ  يُصَلِّيْ  مِنَ  اللَّيْلِ.</strong> <em>متفق عليه</em></p>
<p><em>“Sebaik-baik seseorang yang menjadi hamba Allah adalah jika dia melakukan shalat malam (Tahajjud)”.</em> (HR. Bukhari dan Muslim)<a href="#_ftn7">[7]</a>[]</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Al-Hakim, <em>Al-Mustadrak ‘Ala ash-Shachîhaini, </em>III/13/4331. IV/175/7355. Al-Baihaqi, <em>Syu’abu al-Imân, </em>VI/423/8749. At-Tirmidzi, <em>Sunan Tirmidzi, </em>IX/25/2409. Achmad, <em>Musnadu Achmad</em>, VI/631/23399. Ibnu Majah, <em>Sunan Ibni Majah</em>, I/423/1375</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Muhammad bin Nashir al-Marwazi, <em>Mukhtasharu Qiyâmi al-Laili</em>, Babu Awqatu al-Lail Allati Yustajabu. Al-Munawi, <em>Faidhu al-Qadîr, </em>IV/39/4477. Jalaluddin al-Suyuthi, <em>Jâmi’u al-Masânidi wa al-Mârasil, </em>IV/427/12583. Jalaluddin al-Suyuthi, <em>Al-Fatchu al-Kabîru, </em>II/137/6634. Al-Mutqi al-Hindi, <em>Kanzu al-‘Ummâl</em>, I/1525/21405</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Al-Bukhari, <em>Shachîhu al-Bukhâri, </em>III/1192/3200. Al-Muslim, <em>Shachîhu Muslim, </em>VI/53/1767</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Ahmad, <em>Musnad Ahmad, </em>II/494/7382. Abu Dawud, <em>Sunan Abi Dawud, </em>IV/193/1308. Ibnu Khuzaimah, <em>Shahihu Ibni Khuzaimah, </em>II/183/1148. Ibnu Hibban, <em>Shahihu Ibni Hibban</em>, III/348/2542. Baihaqi, <em>Sunanu al-Kubra</em>, IV/69/4687. Nasai, <em>Sunanu al-Nasai</em>, I/411/1300. Ibnu Majah, <em>Sunanu Ibni Majah</em>, I/424/1377</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Al-Bukhari, <em>Shachîhu al-Bukhâri, </em>I/378/1110. IV/1751/4606. Ahmad, <em>Musnad Ahmad, </em>I/181/902. Baihaqi, <em>Sunanu al-Kubra, </em>IV/68/4684</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Al-Bukhari, <em>Shachîhu al-Bukhâri, </em>I/386/1135. Al-Muslim, <em>Shachîhu Muslim, </em>VIII/37/2686</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Al-Bukhari, <em>Shachîhu al-Bukhâri, </em>I/387/1138. Al-Muslim, <em>Shachîhu Muslim, </em>XVI/33/6323</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/anjuran-manfaat-shalat-taha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Harus Bermadzhab</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kenapa-harus-bermadzhab/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kenapa-harus-bermadzhab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 01:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahtsul Masail]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[BERMADZHAB
Oleh,
H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.Pd.I
A. Pengertian Bermadzhab
Bermadzhab adalah mengikuti hasil istinbath (penggalian) hukum dari ulama mujtahid. Dan secara khusus yang dimaksud bermadzhab di sini adalah mengikuti hasil istinbath hukum dari salah satu Empat Madzhab, yaitu Madzhab Chanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i, dan Madzhab Chambali. Hal inilah yang diungkapkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><a rel="attachment wp-att-261" href="http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kenapa-harus-bermadzhab/untitled-2/"><a rel="attachment wp-att-267" href="http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kenapa-harus-bermadzhab/untitled1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-267" src="http://www.nusurabaya.or.id/wp-content/uploads/2012/02/untitled11.bmp" alt="" /></a></a>BERMADZHAB<br />
Oleh,<br />
H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.Pd.I</p>
<p style="text-align: left">A. Pengertian Bermadzhab</p>
<p style="text-align: left">Bermadzhab adalah mengikuti hasil istinbath (penggalian) hukum dari ulama mujtahid. Dan secara khusus yang dimaksud bermadzhab di sini adalah mengikuti hasil istinbath hukum dari salah satu Empat Madzhab, yaitu Madzhab Chanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i, dan Madzhab Chambali. Hal inilah yang diungkapkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi Nahdlatul Ulama dan dibacakan oleh beliau pada Muktamar NU ke III di Surabaya tahun 1928 M, dan Muktamar NU ke IV di Semarang tahun 1929 M, yang secara detail akan diuraikan di bawah.</p>
<p style="text-align: left">B. Mengapa Bermadzhab</p>
<p style="text-align: left">Tidak ada alasan pada zaman sekarang untuk menolak bertaqlid (mengikuti) kepada para Imam Empat Madzhab, karena tidak dimungkinkannya setiap manusia mengambil hukum-hukum agama secara langlsung dari sumbernya, yani Al Quran dan Hadits. Demikian ini disebabkan tidak dapat terpenuhinya segala persyaratan ijtihad, seperti menguasai ilmu Al Quran, Hadits, Nahwu Lughat, Tashrif, dan perbedaan-perbedaan pendapat para ulama serta metode dalam mengambil hukum dari sumbernya (Ushul Fiqh).<span id="more-258"></span><br />
Ada sebagian golongan yang menyatakan bahwa bermadzhab hukumnya haram dan dilarang. Mereka menyatakan harus menggali hukum sendiri dari Al Quran dan Sunnah. Semua itu beralasan dengan berpijak pada larangan yang disampaikan oleh Imam-imam madzhab empat yaitu Abu Chanifah, as-Syafi’i, Malik dan Chambali. Bahkan kelompok ini mengatakan bahwa orang-orang yang bermadzhab sama dengan ta&#8217;addud as-syari&#8217;ah (penggandaan syari’at). Apakah betul tuduhan mereka?, jawaban pertanyaan itu akan diuraikan dalam bab khusus tentang ijtihad dan taqlid pada bab berikutnya.</p>
<p style="text-align: left">C. Kenapa Terbatas Empat Madzhab</p>
<p style="text-align: left">Sebenarnya para Imam Mujtahid tidak hanya terbatas pada Empat Madzhab. Di luar Empat Madhab juga banyak para Imam yang telah mencapai tingkatan Mujtahid, seperti Imam Sufyan al-Tasuri, Hasan al-Bashri, Ishaq bin Ruhawaih, Dawud al-Dhahiri dan lain-lain yang masih tergolong Ahlussunnah Wal Jamaah. Inilah yang diungkapkan oleh Imam Qahir bin thahir al-Tamimi dalam kitab Al-Farqu Baina al-Firaq.<br />
Namun karena para pengikutnya tidak ada yang meneruskan dan mengembangkan pemikiran-pemikirannya, maka seiring dengan berlalunya waktu, satu persatu musnah ditelan zaman. Oleh karena itulah maka Syaikh Ibrahim al-Baijuri dalam kitab Tuchfatu al-Murid Syarhu Jawhari al-Tauhid dengan tegas melarang mengikuti Madzhab selain dari Empat Madzhab tersebut.<br />
Berbeda dengan pengikut Empat Madzhab ini, yang selalu terus menyebarkan dan mengembangkan pemikiran pemikiran Imam pendiri madzhabnya, sehingga pendapat Imam pendiri madzhab tersebut dapat terkodivikasi (tethimpun) dengan baik, yang akhirnya validitas (kebenaran sumber dan salurannya) dari pendapat tersebut tidak diragukan Iagi, dan terhindar dari kemungkinan pemalsuan terhadap pendapat dan pemikiran Imam pendiri madzhab. Disamping itu, Empat Madzhab ini telah teruji keshahihannya, sebab memiliki metode istinbath (penggalian hukum) yang jelas dan telah tersistematis (tersusun) dengan baik, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara llmiyah.<br />
Para pengikut Empat Madzhab juga menulis beberapa kitab yang menguraikan dan menjabarkan pemikiran Imam Madzhab dengan sanad (mata rantai) yang terus bersambung kepada pendiri Madzhab.<br />
Syaih Abdurrahman al-Hadrami dalam kitab Bughyatu al-Mustarsyidin memberikan keterangan, Imam Qaffal secara tegas menyatakan bahwa hanya mengikuti Empat Madzhab dan tidak boleh mengikuti Madzhab yang lain adalah kesepakatan ulama, meskipun untuk dipakai sendiri, terlebih dalam hal memberikan fatwa dan menjatuhkan hukum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/kenapa-harus-bermadzhab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Membaca Basmalah Ketika Wudhu</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hukum-membaca-basmalah-ketika-wudhu/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hukum-membaca-basmalah-ketika-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 12:26:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahtsul Masail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[surabaya
Oleh,
H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.pd.I
Dasar pembacaan tasmiyah (basmalah) sebelum wudhu adalah sabda Rasulullah ﷺ yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah t:
لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ
“Tidak sempurna wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah ketika mengerjakannya.” (HR. Ahmad, Hakim, Baihaqi, Thabrani, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dll)[1]
Dengan berdasarkan pada hadits ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-252" href="http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hukum-membaca-basmalah-ketika-wudhu/logo-pdk-jd/"><a rel="attachment wp-att-255" href="http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hukum-membaca-basmalah-ketika-wudhu/untitled/"><img class="alignleft size-full wp-image-255" src="http://www.nusurabaya.or.id/wp-content/uploads/2012/02/untitled.bmp" alt="" /></a></a>surabaya</p>
<p>Oleh,</p>
<p>H. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar, S.pd.I</p>
<p>Dasar pembacaan <em>tasmiyah</em> (<em>basmalah</em>) sebelum wudhu adalah sabda Rasulullah ﷺ yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah t:</p>
<p style="text-align: right">لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ</p>
<p><em>“Tidak sempurna wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah ketika mengerjakannya.”</em> (HR. Ahmad, Hakim, Baihaqi, Thabrani, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dll)<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dengan berdasarkan pada hadits ini, ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca <em>basmalah</em>. Ada yang berpendapat wajib, ada pula yang berpendapat sunnah.<span id="more-248"></span></p>
<p>Ulama yang berpendapat <strong>wajib</strong> di antaranya adalah sahabat Abu Bakar, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Asy Syaukani, Hasan Al Bashri, dan mazhab Dzhahiriyah.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Mereka berpendapat, apabila ada orang yang meninggalkan membaca <em>basmalah</em> dengan sengaja, maka wudhunya tidak sah karena ia meninggalkan perkara yang wajib dalam wudhu. Namun apabila ia tidak mengucapkannya karena lupa atau meyakini tidak wajib, maka wudhunya tidak batal.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Sedangkan ulama yang menyatakan sunnah membaca <em>basmalah</em> adalah sahabat </strong>Sufyan Ats Tsauri, Imam Syafi’i, riwayat yang dhahir dari Imam Ahmad bin Hambal<a href="#_ftn4">[4]</a>, Abu ‘Ubaid, dan <em>Ashabur Ra’yi</em> (kalangan cendikiawan). Pendapat inilah yang dijadikan pegangan oleh <em>jumhur</em> (mayoritas ulama), Abu Hanifah, dan lainnya.<a href="#_ftn5">[5]</a> <strong> </strong></p>
<p>Ibnul Mundzir berkata: <em>“Mayoritas ulama mengatakan <strong>sunnah</strong> menyebut nama Allah apabila ia hendak berwudhu, sebagaimana mereka menganggap sunnah membaca basmalah sebelum makan dan minum, tidur, serta yang lainnya. Kebanyakan mereka mengatakan tidak apa-apa bagi seseorang untuk meninggalkan tasmiyah saat hendak wudhu, karena sengaja atau pun lupa”</em>.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Imam Syafi’i berkata: <em>“Saya menganjurkan seseorang untuk membaca basmalah ketika hendak berwudhu. Apabila ia lupa, maka ucapkanlah selama masih dalam keadaan melakukan wudhu. Jika ia meninggalkan tasmiyah karena lupa atau sengaja, maka tidak akan merusak wudhunya.”</em><a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Imam Nawawi mengatakan: <em>“Tasmiyah adalah disunnahkan sebelum wudhu, dalam seluruh ibadah, dan juga perbuatan-perbuatan lainnya, bahkan ketika bersenggama (jima’)”.</em> Beliau juga menyatakan bahwa tasmiyah ini termasuk sunnah-sunnah wudhu, bila meninggalkannya dengan sengaja maka tidak membatalkan wudhu.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Ibnu Hazm berkata: <em>“Disunnahkan mengucapkan tasmiyah ketika hendak berwudhu. Apabila ada seseorang yang meninggalkannya maka wudhunya tetap sempurna”</em>.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Dengan pemaparan di atas, maka yang kuat di antara pendapat-pendapat yang ada adalah pendapat yang mengatakan sunnah, bukan wajib. Karena hadits tersebut mengandung makna <em>“Tidak sempurna jika tanpa bismillah”</em> bukan <em>“Tidak sah jika tanpa bismillah”</em>. Pendapat ini diperkuat oleh Imam Bazzar.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Meskipun hukum membaca <em>basmalah</em> sebelum wudhu adalah sunnah namun hukmnya makruh jika dengan sengaja meninggalkannya, karena mayoritas ulama yang menghukumi sunnah menyatakan sebagai <em>sunnah mu’akkadah</em> yakni sunnah yang sangat dianjurkan.</p>
<p>Lafadz <em>basmalah</em> yang dibaca sebelum wudhu sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ad Dailami, Ibnu Asakir, Abul Qasim bin Mandah, Al Mustaghfiri, dan Ibnu Najar, yang perawinya sampai pada Nabi diketahui semuanya,<a href="#_ftn11">[11]</a> yang berasal dari Sayidina Hasan dari sahabat Ali adalah kalimat:</p>
<p style="text-align: right">بِسْمِ اللهِ الْعَظِيْمِ وَالْحَمْدُ لِلهِ عَلَى الْإِسْلَامِ</p>
<p><em>“Dengan menyebut nama Allah Dzat yang Maha Agung, segala puji bagi Allah atas nikmat yang berupa agama Islam”.</em></p>
<p>Atau dengan kalimat <em>basmalah</em> seperti biasanya:</p>
<p style="text-align: right">بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ</p>
<p><em>“Dengan menyebut nama Allah Dzat yang Maha Pengasihj lagi Maha Penyayang”.</em><em> </em></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Baca <em>Musnad Ahmad</em> XIX/93/9050, <em>Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain Li Al Hakim</em> II/7/472, <em>As Sunan Al Kubra Li Al Baihaqi</em> I/41, <em>Al Mu’jam Al Kabir Li At Thabrani</em> V/390/5567, <em>Sunan Tirmidzi</em> I/46/25, <em>Sunan Abi Dawud</em> I/141/92, <em>Sunan Ibnu Majah</em> I/481/391.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat Ibnu Qudamah, <em>Al Mughni </em>I/73.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Baca Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi, <em>Al Majmu’ </em>I/387.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat Ibnu Qudamah, <em>Al Mughni </em>I/73.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Baca Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi, <em>Al Majmu’ </em>I/386.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat Ibnul Mundzir, <em>Al Ausath </em>I/367-368.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Baca Asy Syafi’i, <em>Al Umm</em> I/31</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi, <em>Al Majmu’ </em>I/386.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Baca Ibnu Hazm, <em>Al Mu<span style="text-decoration: underline">h</span>alla</em> II/49.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat Al Bazzar, <em>At Talkhis </em>I/112.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Alauddin bin Ali Hisamuddin, <em>Kanzu Al ‘Ummal Fi Sunan Al Af’al Wa Al Aqwal, </em>, juz IX hlm. 465, nomer hadits 26990</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/02/hukum-membaca-basmalah-ketika-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dirgahayu 86 tahun NU Mengabdi Bangsa</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/dirgahayu-86-tahun-nu-mengabdi-bangsa/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/dirgahayu-86-tahun-nu-mengabdi-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 09:47:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Didirikan  di Surabaya pada 31 Januari 1926 M (16 Rajab 1344 H), dalam hitungan  kalender miladiyah Nahdlatul Ulama (NU) saat ini berusia 86 tahun.
Sebagai Jam’iyyah Diniyah, NU adalah wadah bari para ulama dan  pengikut-pengikutnya dengan tujuan memelihara, melestarikan,  mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam menganut faham Ahlussunnah  Waljamaah.
NU dalam bidang aqidah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a rel="attachment wp-att-244" href="http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/dirgahayu-86-tahun-nu-mengabdi-bangsa/nu-2/"><img class="alignnone size-medium wp-image-244" src="http://www.nusurabaya.or.id/wp-content/uploads/2012/01/NU1-300x169.jpg" alt="" width="300" height="169" /></a>Didirikan  di Surabaya pada 31 Januari 1926 M (16 Rajab 1344 H), dalam hitungan  kalender miladiyah Nahdlatul Ulama (NU) saat ini berusia 86 tahun.</p>
<p>Sebagai Jam’iyyah Diniyah, NU adalah wadah bari para ulama dan  pengikut-pengikutnya dengan tujuan memelihara, melestarikan,  mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam menganut faham Ahlussunnah  Waljamaah.<br />
NU dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan  al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqih mengikuti  salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali),  dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaidi al-Baghdadi dan  Abu Hamid al-Ghazali.</p>
<p>Dirgahayu Nahdlatul Ulama Jam’iyyah ku<br />
86 tahun mengabdi bangsa</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/dirgahayu-86-tahun-nu-mengabdi-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penutupan NU Expo</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/penutupan-nu-expo/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/penutupan-nu-expo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 09:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya
Carly ST12 bersama Wagub Jatim Drs. H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) Menutup acara NU Expo di Grand City Surabaya.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Surabaya</p>
<p>Carly ST12 bersama Wagub Jatim Drs. H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) Menutup acara NU Expo di Grand City Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/penutupan-nu-expo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merayakan Maulid Nabi SAW</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/merayakan-maulid-nabi-saw/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/merayakan-maulid-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 09:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aswaja Centre]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya
Maulid Sebagai Tradisi
Maulid Nabi Muhammad Saw bukanlah ibadah, tetapi sebuah tradisi. Sebab kalau ibadah maka sudah pasti ada tuntunan tentang waktu, tatacara dan sebagainya, baik dalam al Quran maupun Hadis. Karena Maulid bukan ibadah, maka boleh saja tidak melakukan Maulid, tetapi tidak boleh mengharamkannya bagi para pecinta Maulid. Kendatipun Maulid adalah sebuah tradisi, namun di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Surabaya</strong></p>
<p><strong>Maulid Sebagai Tradisi</strong></p>
<p>Maulid Nabi Muhammad Saw bukanlah ibadah, tetapi sebuah tradisi. Sebab kalau ibadah maka sudah pasti ada tuntunan tentang waktu, tatacara dan sebagainya, baik dalam al Quran maupun Hadis. Karena Maulid bukan ibadah, maka boleh saja tidak melakukan Maulid, tetapi tidak boleh mengharamkannya bagi para pecinta Maulid. Kendatipun Maulid adalah sebuah tradisi, namun di dalamnya mengandung nilai-nilai ibadah seperti membaca shalawat, sedekah, membacakan kisah Rasulullah, dan tidak ada menyimpang dari dalil-dalil dalam agama. Oleh karenanya Imam al-Ghazali memiliki istilah yang indah:</p>
<p>&#8220;Jika secara satu persatu (partikel) tidak ada yang haram, lalu darimana secara keseluruhan menjadi haram?&#8221; (Ihya Ulumiddin II/273)<span id="more-231"></span></p>
<p>Disisi lain, larangan meninggalkan sesuatu harus berdasarkan dalil dari Rasulullah saw, sebagaimana firman Allah: <em>&#8220;Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. <span style="text-decoration: underline">Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah</span>&#8220;</em> (Al Hasyr: 7)</p>
<p>Dan ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw: <em>&#8220;Ma nahaitukum &#8216;anhu fajtanibuhu wa ma amartukum bihi faf&#8217;alu minhu mastatha&#8217;tum&#8221;</em>. Artinya: &#8220;<span style="text-decoration: underline">Apapun yang aku larang, maka jauhilah perbuatan tersebut.</span> Dan apapun yang aku perintahkan, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian&#8221; (HR al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Pertanyaannya, adakah dalil yang melarang melakukan tradisi amaliyah Maulid?</p>
<p><strong>Fatwa Ulama Tentang Maulid</strong></p>
<ol>
<li><strong>Al Hafidz Ibnu      Hajar</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p>Syaikhu al Islam Al Hafidz Ibnu Hajar telah ditanya tentang amaliyah Maulid, kemudian beliau menjawab: &#8220;Pokok utama dalam amaliyah Maulid adalah bid&#8217;ah yang tidak diriwayatkan dari ulama salaf as shalih dari tiga generasi (sahabat, tabi&#8217;in, dan atba&#8217; at tabi&#8217;in). Akan tetapi Maulid tersebut mengandung kebaikan-kebaikan dan sebaliknya. Maka barangsiapa yang berusaha meraih kebaikan dalam Maulid dan menjauhi yang buruk, maka termasuk bid&#8217;ah yang baik. Jika tidak, maka disebut bid&#8217;ah yang buruk&#8221;</p>
<p>Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: Telah jelas bagi saya dalam menggali dalil Maulid dari sumber dalil yang sahih. Yaitu hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:  &#8221;Ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, beliau menjumpai kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura&#8217; (10 Muharram), kemudian Nabi menanyakan kepada mereka? Mereka menjawab: Asyura&#8217; adalah hari dimana Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa pada hari Asyura&#8217; sebagai bentuk syukur kepada Allah&#8221;</p>
<p>Dari hadis ini bisa diambil satu faidah diperbolehkannya melakukan syukur kepada Allah atas anugerah dari-Nya di hari tertentu, baik mendapatkan nikmat atau terlepas dari musibah, dan hal tersebut bisa dilakukan secara berulang kali setiap tahun. Bersyukur kepada Allah dapat diwujudkan dengan berbagai ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah dan membaca al Quran. Dan manakah nikmat yang lebih agung daripada kelahiran seorang Nabi, Nabi pembawa rahmat, di hari tersebut? Dari uraian ini dianjurkan untuk berusaha untuk menyesuaikan dengan hari kelahirannya agar sesuai dengan kisah Musa di hari Asyura&#8217;. (al-Hawi lil Fatawi li al-Hafidz al-Suyuthi I/301)</p>
<ol>
<li><strong>Ibnu Taimiyah</strong></li>
</ol>
<p>Ulama yang sangat dikagumi oleh aliran Wahhabi yang anti Maulid, Ibnu Taimiyah, justru memperbolehkan melakukan Maulid, ia berkata: &#8220;Mengagungkan Maulid dan menjadikannya perayaan musiman telah dilakukan oleh sebagian ulama, dan dia mendapatkan pahala yang agung karena memiliki tujuan yang baik dan mengagungkan kepada Rasulullah Saw&#8221; (<em>Iqtidla&#8217; as Shirat al Mustaqim</em> II/126)</p>
<ol>
<li><strong>Al Hafidz      al-Dzahabi</strong></li>
</ol>
<p>Orang yang pertama kali melakukan Maulid adalah penguasa Irbil, Raja al Mudzaffar Abu Said Kukburi bin Zainuddin Ali bin Biktikin (549-630 H, ipar Raja Shalahuddin al Ayyubi), salah seorang raja yang agung, besar dan mulia. Ia memiliki riwayat hidup yang baik. Dan dia telah memakmurkan masjid Jami&#8217; al Mudzaffari di Safah Qasiyun. Bahkan al Dzahabi berkata: &#8220;Ia raja yang rendah diri, baik, Sunni (pengikut Ahlisunnah wal Jama&#8217;ah) dan mencintai ulama fikih dan ahli hadis&#8221; (Siyar A&#8217;lam an Nubala&#8217;, XXII/336)</p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>Al Hafidz Ibnu      Katsir </strong></li>
</ol>
<p>Ibnu Katsir berkata dalam kitab Tarikh-nya, bahwa Malik al Mudzaffar mengamalkan maulid Nabi di bulan Rabi&#8217;ul Awal dan melakukan perayaan yang besar. Dia adalah cerdas hatinya, pemberani, tangguh, cerdas akalnya, pandai dan adil. Semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya.</p>
<p><strong>Memjawab Dalil Larangan Maulid</strong></p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, hadis yang kerap digunakan untuk melarang amaliyah Maulid adalah:</p>
<p><em>&#8220;La tuthruni ka ma athrat an-nashara ibna maryama fa innama anaa abduhu, fa qulu abdullahi wa rasuluhu&#8221;</em>. Artinya: &#8220;Janganlah kalian memuji secara dusta kepada saya, sebagaimana Nashrani memuji memuji secara dusta kepada (Isa) Putra Maryam. Saya hanyalah hamba Allah. Maka ucapkan: Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya&#8221; (HR Ahmad No 154, al Bukhari No 3261 dan Ibnu Hibban No 6239 dari Umar)</p>
<p>Kalimat <em>&#8216;Ithra&#8217;</em> artinya menurut al Hafidz Ibnu Hajar adalah memuji dengan batil (Baca Fathu al Bari X/246). Semua Ahli hadis, termasuk al Hafidz Ibnu Hajar, sepakat bahwa yang dimaksud dengan pujian yang dusta dalam hadis ini adalah &#8216;menuhankan Nabi Isa&#8217;. Maka yang dilarang dalam hadis ini adalah larangan menganggap Muhammad sebagai Tuhan, sebagai sekutu Allah ataupun Anak Allah. Terbukti dengan kalimat terakhir dalam hadis tersebut: <em>&#8220;Saya hanyalah hamba Allah. Maka ucapkan: Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya.&#8221;</em></p>
<p>Justru dengan ber<em>istidlal</em> dari hadis ini, Syaikh al Mubarakfuri berkata: &#8220;Pemahaman dari hadis ini, sesunggungguhnya memuji Rasulullah Saw dengan cara yang tidak sama dengan pujian Nashrani, adalah diperbolehkan. Dan betapa indahnya syair pengarang Burdah (Syaikh al Bushiri):</p>
<p>دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِي نَبِيِّهِمِ * وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيْهِ وَاحْتَكِمِ</p>
<p>&#8220;Tinggalkanlah pengakuan Nashrani untuk Nabi mereka (sebagai Tuhan). Dan tetapkanlah pujian yang engkau kehendaki untuk Nabi Muhammad&#8221; (Syarah Misykat al Mashabih XIV/172)</p>
<p>Memuji Rasulullah Saw dan mengagungkannya dengan batas diatas tidak hanya diabadikan dalam syair-syair yang dibaca dalam acara Maulid seperti al Daiba&#8217;i, al Barzanji, Qasidah Burdah dan sebagainya, tetapi juga telah dilakukan sejak masa sahabat, sebagaimana pujian Amr bin Ash:</p>
<p>&#8220;Tidak seorangpun yang saya cintai daripada Rasulullah Saw dan tidak ada yang lebih agung di mata saya daripada beliau. Kedua mata saya tak pernah sanggup menatap beliau karena keagungannya. Dan seandainya saya ditanya mengenai sifat beliau maka saya tidak akan mampu, karena kedua mata saya tidak pernah mampu menangkapnya. Dan seandainya saya mati dalam keadaan demikian, maka saya berharap menjadi bagian penghuni surga&#8221; (HR Muslim No 336)</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, hadis <em>&#8216;al Ghuluwwu fi al din&#8217;</em> atau berlebihan dalam agama, yaitu:</p>
<p><em>&#8220;Ayyuhannas, iyyakum wa al-ghuluwwa fi al-din. Fa innama ahlaka man kana qablakum al-ghuluwwu fi al-din&#8221;</em>. Artinya: &#8220;Wahai manusia, janganlah kalian berlebihan dalam agama. Sebab orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nashrani) telah binasa dikarenakan berlebihan dalam agama&#8221; (HR Ahmad No 1851, Ibnu Majah no 3029 dan al Nasa&#8217;I No 4049)</p>
<p>Hadis ini masih umum dan global. Larangan &#8216;berlebihan dalam agama&#8217; bagaimana yang dimaksud? Ternyata hadis ini berkaitan dengan firman Allah al Maidah: 77, yang menjelaskan bentuk larangan tersebut, yaitu:</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab,<strong> janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu…</strong>&#8220;</em></p>
<p><strong>&#8216;Berlebihan dalam agama&#8217; yang dilarang sebagaimana dalam ayat ini adalah berlebihan dengan cara yang tidak benar (menyimpang dari agama)</strong>. Sementara &#8216;Berlebihan dalam agama&#8217; dengan cara-cara yang sesuai dengan syariat adalah tidak dilarang, seperti yang disampaikan oleh banyak ahli tafsir (Baca Tafsir al Razi VI/128, Tafsir Ruh al Ma&#8217;ani karya al Alusi V/93, Ali al Syaukani dalam Fathu al Qadir II/343, al Biqa&#8217;I dalam Nadzmu al Durar II/442, Ibnu &#8216;Asyur dalam al Tahrir wa al Tanwir IV/265, dan lainnya). Sedangkan dalam amaliyah Maulid kesemuanya tidak ada yang menyimpang dari syariat, seperti membaca shalawat, bersedekah, menceritakan kisah Nabi dan sebagainya.</p>
<p>Disamping itu, sebenarnya yang dimaksud &#8216;Berlebihan dalam agama&#8217; di atas adalah menuhankan Nabi Isa yang dilakukan oleh umat Nashrani, manganggap Nabi Uzair sebagai putra Allah oleh Yahudi, dan sebagainya. Sedangkan dalam amaliyah Maulid tidak terbersit sedikitpun memposisikan Rasulullah Saw sebagai Nabi Allah menjadi Tuhan maupun Anak Tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashrani yang dikecam dalam ayat diatas.</p>
<p><strong><em>Wallahu A&#8217;lam</em></strong></p>
<p>Konsultasi / Tanya Jawab</p>
<p>Ziarah ke Makam Rasulullah Saw</p>
<p>Selama saya berada di tanah suci melakukan Ibadah haji, kerap sekali saya mendengarkan pengajian di sekitar Masjidil Haram yang isinya menjelaskan bahwa hadis tentang ziarah ke makam Rasulullah Saw adalah hadis yang sangat lemah, bahkan ada yang mengatakan <em>maudlu&#8217;</em> (hadis palsu). Benarkah hal tersebut? H Sholihin, Sby.</p>
<p>Terimakasih atas pertanyaannya. Ziarah ke makam Rasulullah adalah bagian dari pendekatan diri kepada Allah yang terpenting dan perintah yang paling utama (al Adzkar an-Nawawiyah I/204). Hal ini berdasarkan beberapa riwayat hadis.</p>
<p>Terkait riwayat tersebut dlaif, maka Al-Dzahabi berkata: &#8220;Semua jalur riwayatnya (ziarah ke makam Nabi) lemah, tapi sebagian menguatkan riwayat yang lain, karena diantara perawinya ada yang dituduh berdusta.&#8221; Al-Dzahabi berkata: &#8220;Diantara yang paling baik sanadnya adalah hadis riwayat Hatib: &#8220;Barangsiapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka sama seperti ziarah ketika aku hidup&#8221;, diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Asakir dan lainnya&#8221; (al-Suyuthi dalam kitab <em>al-Durar al-Muntatsirah</em> I/19)</p>
<p>al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: &#8220;Hadis-hadis ini dinilai sahih oleh Syaikh Taqiyuddin al-Subki dengan metode akumulasi seluruh riwayat&#8221; (<em>al-Talkhish al-Habir</em> II/470)</p>
<p>Sedangkan tuduhan palsu oleh Ibnu Taimiyah, maka dibantah oleh al-Hafidz Ibnu Hajar: &#8220;Secara global perkataan Ibnu Taimiyah: &#8216;Hadis ini palsu&#8217;, adalah tidak benar&#8221; (al-Munawi dalam <em>Faidl al-Qadir</em> VI/181)</p>
<p>Dengan demikian, tidaklah benar jika ada yang mengatakan hadis-hadis tentang anjuran ziarah ke makam Rasulullah Saw adalah dlaif atau dituduh <em>maudlu&#8217;</em> (hadis palsu)</p>
<p>الأذكار النووية &#8211; (1 / 204)</p>
<p>فصل في زيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم وأذكارها : إعلم أنه ينبغي لكل من حج أن يتوجه إلى زيارة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، سواء كان ذلك طريقه أو لم يكن ، فإن زيارته صلى الله عليه وسلم من أهم القربات وأربح المساعي وأفضل الطلبات</p>
<p><strong>قَالَ الذَّهَبِي طُرُقُهُ كُلُّهَا لَيِّنَةُ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا ِلأَنَّ مَا فِي رُوَّاتِهَا مُتَّهَمٌ بِالْكِذْبِ قَالَ وَمِنْ أَجْوَدِهَا إِسْنَادًا حَدِيْثُ حَاطِبٍ مَنْ زَارَنِي بَعْدَ مَوْتِي فَكَأَنَّمَا زَارَنِي فِي حَيَاتِي أَخْرَجَهُ ابْنُ عَسَاكِرَ وَغَيْرُهُ </strong>(الدرر المنتثرة في الأحاديث المشتهرة للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 19)</p>
<p>Al-Dzahabi berkata: Semua jalur riwayatnya lemah, tapi sebagian menguatkan riwayat yang lain, karena diantara perawinya ada yang dituduh berdusta. Al-Dzahabi berkata: Diantara yang paling baik sanadnya adalah hadis riwayat Hatib: Barangsiapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka sama seperti ziarah ketika aku hidup, diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Asakir dan lainnya&#8221; (al-Suyuthi dalam kitab <em>al-Durar al-Muntatsirah</em> I/19)</p>
<p><strong>(فَائِدَةٌ) طُرُقُ هَذَا الْحَدِيْثِ كُلُّهَا ضَعِيْفَةٌ لَكِنْ صَحَّحَهُ مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ أَبُوْ عَلِيِّ بْنِ السَّكَنِ فِي إِيْرَادِهِ إِيَّاهُ فِي أَثْنَاءِ السُّنَنِ الصِّحَاحِ لَهُ وَعَبْدُ الْحَقِّ فِي اْلأَحْكَامِ فِي سُكُوْتِهِ عَنْهُ وَالشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِي مِنَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ بِاعْتِبَارِ مَجْمُوْعِ الطُّرُقِ وَأَصَحُّ مَا وَرَدَ فِي ذَلِكَ مَا رَوَاهُ أَحْمَدُ (</strong>10827<strong>) وَأَبُوْ دَاوُدَ (</strong>2041<strong>) مِنْ طَرِيْقِ أَبِي صَخْرٍ حُمَيْدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ يَزِيْدَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ قُسَيْطٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوْعًا مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِي حَتَّى أّرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ وَبِهَذَا الْحَدِيْثِ صَدَرَ الْبَيْهَقِي اْلبَابَ</strong> (تلخيص الحبير في تخريج أحاديث الرافعي الكبير للحافظ ابن حجر 2 / 570)</p>
<p>&#8220;Semua jalur riwayat ini adalah dlaif, tetapi hadis riwayat Ibnu Umar disahihkan oleh Ibnu al-Sakan karena ia mencantumkannya dalam kitab karyanya yaitu al-Sunan al-Shihah, juga disahihkan oleh Abdulhaqq dalam kitabnya al-Ahkam dan ia tidak memberi komentar, juga oleh Syaikh Taqiyuddin al-Subki dari ulama akhir dengan metode akumulasi seluruh riwayat. Hadis yang paling sahih terkait ziarah ke makam Rasulullah Saw adalah riwayat Ahmad (10827) dan Abu Dawud (2041) dari Abu Hurairah secara marfu&#8217;: Tidak seorangpun yang mengucap salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruh kepadaku hingga aku menjawab salam kepadanya. Dengan hadis inilah al-Baihaqi (dalam kitab al-Sunan al-Kubra No 0569) mendahulukan bab tentang ziarah ke makam Rasulullah&#8221; (al-Hafidz Ibnu Hajar dalam <em>al-Talkhish al-Habir</em> II/470)</p>
<p><strong>قَالَ أَعْنِي ابْنَ حَجَرٍ وَبِالْجُمْلَةِ فَقَوْلُ ابْنِ تَيْمِيَّةَ &#8220;مَوْضُوْعٌ&#8221; غَيْرُ صَوَابٍ</strong> (فيض القدير شرح الجامع الصغير للمناوي 6 / 181)</p>
<p>&#8220;Ibnu Hajar berkata: Secara global perkataan Ibnu Taimiyah: &#8216;Hadis ini palsu&#8217;, adalah tidak benar&#8221; (al-Munawi dalam <em>Faidl al-Qadir</em> VI/181)</p>
<p>Makruf Khozin</p>
<p>(Ketua Lembaga Bahtsul Masail Kota Surabaya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/merayakan-maulid-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harlah ke-58 IPNU</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/harlah-ke-58-ipnu/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/harlah-ke-58-ipnu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 11:12:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Surabaya berencana menggelar kegiatan untuk memperingati Harlah IPNU yang k-58. Pada harlah yang ke-57 kemarin IPNU Kota Surabaya sudah melaksanakan rangkaian kegiatan diantaranya yaitu Turnament Futsal Pelajar se-Kota Surabaya, mathematic competition, dan malam refleksi harlah. pada harlah yang ke-58 sekarang IPNU Kota surabaya dalam rangkaiannya akan melaksanakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Surabaya, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Surabaya berencana menggelar kegiatan untuk memperingati Harlah IPNU yang k-58. <span id="more-219"></span>Pada harlah yang ke-57 kemarin IPNU Kota Surabaya sudah melaksanakan rangkaian kegiatan diantaranya yaitu Turnament Futsal Pelajar se-Kota Surabaya, mathematic competition, dan malam refleksi harlah. pada harlah yang ke-58 sekarang IPNU Kota surabaya dalam rangkaiannya akan melaksanakan kegiatan seminar nasional pada  tanggal 18 Pebruari dan pada puncaknya tanggal 26 Pebruari 2012 akan mengadakan doa bersama dan tabligh akbar pelajar dan santri se-Kota Surabaya di Masjid Raya Kemayoran, Jl. Indrapura. acara ini sekaligus dilaksanakan dalam memperingati maulid Nabi Muhammad SAW dan mempersiapkan mental spiritual pelajar dalam menghadapi Ujian sekolah dan Ujian Nasional. pada tabligh akbar ini akan dihadiri oleh KH. Imam Hambali. beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Jihad Wonocolo sekligus pengisi pengajian di JTV.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/harlah-ke-58-ipnu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IPNU Surabaya gagas seminar Kebangsaan</title>
		<link>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/ipnu-surabaya-gagas-seminar-kebangsaan/</link>
		<comments>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/ipnu-surabaya-gagas-seminar-kebangsaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 10:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nusurabaya.or.id/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya
PC IPNU Surabaya akan mengelar seminar tentang kebangsaan. Seminar kebangsaan bertema &#8220;Agama, sosial dan politik dalam memajukan perekonomian&#8221;. Menurut Mundir sekertaris IPNU Surabaya &#8221; Seminar ini diharapkan menjadi semangat bagi warga NU untuk meningkatkan ekonomi&#8221;, seminar ini rencananya menghadirkan KH. Abdussomad Buchori dari MUI Jawa Timur, Prof. Syafiq A. Mugni dari PP Muhammadiyah dan KH. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Surabaya</p>
<p>PC IPNU Surabaya akan mengelar seminar tentang kebangsaan. Seminar kebangsaan bertema &#8220;Agama, sosial dan politik dalam memajukan perekonomian&#8221;. Menurut Mundir sekertaris IPNU Surabaya &#8221; Seminar ini diharapkan menjadi semangat bagi warga NU untuk meningkatkan ekonomi&#8221;, <span id="more-215"></span>seminar ini rencananya menghadirkan KH. Abdussomad Buchori dari MUI Jawa Timur, Prof. Syafiq A. Mugni dari PP Muhammadiyah dan KH. Hasan Mutawakil Allalah ketua PWNU Jawa Timur. kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Oval Jl. Diponegoro Surabaya, tanggal 18 Februari 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nusurabaya.or.id/2012/01/ipnu-surabaya-gagas-seminar-kebangsaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

